Dalam Kasih Yang Tulus, Kami Hadir Untuk Melayani
JAM BESUK: PAGI 10.00 - 11.00 | SORE 18.00 - 19.00
11 Penyakit Saraf yang Ganggu Kehidupan Sehari-hari. Kenali Gejalanya!
diposting pada 04 Apr 2026, 00:13 Diunggah oleh: dr. Devina Nugroho, Sp.N
11 Penyakit Saraf yang Ganggu Kehidupan Sehari-hari. Kenali Gejalanya!

Saraf adalah organ penting yang menentukan apakah organ lain dapat bekerja dengan baik atau tidak. Makanya, sangat penting untuk mengetahui macam-macam penyakit saraf agar jika gejalanya muncul, kita bisa langsung mengobatinya sebelum parah.

Sistem saraf adalah sistem organ yang bertugas untuk mengoordinasikan semua aktivitas tubuh manusia semisal berjalan, merespons hal darurat, menggerakkan tubuh, berbicara, mengingat  merasakan keluhan yang muncul pada diri, dan lain-lain.

Jadi, kita harus memastikan bahwa sistem saraf selalu dalam keadaan sehat. Soalnya, jika sampai terkena penyakit saraf, kualitas hidup kita akan menurun dan bahkan dapat mengancam nyawa.

Selain itu, kita juga harus waspada karena gangguan pada salah satu bagian sistem saraf bisa menyebar ke organ tubuh lainnya.

Lalu, apa saja macam-macam penyakit saraf yang harus kita waspadai? Simak selengkapnya berikut ini, ya!

Macam-Macam Penyakit Saraf

Secara umum, penyakit saraf sangat sulit disembuhkan. Namun, dengan rehabilitasi dan perawatan yang benar, gejalanya bisa berkurang dan membantu penderitanya untuk menjalani rutinitas sehari-hari.

1. Multiple Sclerosis (MS)

Multiple sclerosis adalah penyakit yang dapat melumpuhkan otak dan sumsum tulang belakang.

Penyakit ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang selubung pelindung serabut saraf, sehingga koordinasi antara otak dan tubuh menjadi rusak. Lebih bahayanya lagi, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saraf secara permanen.

MS bisa menyerang siapapun, tetapi lebih sering terjadi pada pasien wanita muda berusia sekitar 20 tahun walau pada rentang 30-50 tahun pun juga banyak yang terserang. 

Gejala dari penyakit ini di antaranya adalah sebagai berikut:

Ilustrasi gejala multiple sclerosis (sumber: ahintofrosemary.com)
  • Kesemutan 63,5%
  • Gangguan kognitif 13,4%
  • Depresi 14,7%
  • Lemah, letih lesi 40,1%
  • Kram dan kaku otot 17,2%
  • Kelemahan ekstremitas 25,3%
  • Vertigo 23,2%
  • Gangguan penglihatan 40,2%
  • Nyeri 19,3%
  • Disfungsi bladder / kandung kemih 11,1%
  • Gangguan pencernaan 5,7%
  • Kesulitan berjalan 48,9% 

Beberapa pasien multiple sclerosis juga mengeluhkan adanya kemunduran kualitas hidup. Gangguan ini bisa memicu berbagai macam bentuk emosi yang tentunya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri bahkan orang lain. 

Banyak dari pasien multiple sclerosis mengeluhkan gejala kambuh dan remisi. Artinya gejala bisa muncul secara tiba-tiba dan menghilang dengan sendirinya. 

Jika ada gejala seperti itu, Sahabat MIKA sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis saraf. Dengan keluhan tersebut, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan, di antaranya, pemindaian MRI kepala dan memeriksa tulang belakang dengan menggunakan cairan kontras. 

Selain itu, banyak juga pemeriksaan lanjutan setelahnya, semisal lumbal pungsi dan pemeriksaan antibodi.

2. Alzheimer

Gejala penyakit ini umumnya menyerang otak pada orang yang sudah berusia lanjut.

Penyakit ini ditemukan oleh Alois Alzheimer pada tahun 1907 dan prevalensi kejadiannya meningkat sesuai usia. Sekira 5% pasien dari total kasus berusia di atas 60 tahun dan hampir 50%-nya menyerang pasien usia di atas 85 tahun.

Apa yang terjadi pada orang dengan alzheimer? 

Jadi, dalam kondisi normal, otak terdiri dari miliaran sel saraf yang saling mengirimkan sinyal. Sinyal ini ditangkap oleh sejumlah bagian dalam otak, lalu otak mengirimkan sinyal ini ke otot dan organ tubuh lainnya.

Hal ini yang membuat kita bisa beraktivitas secara normal.

Namun, pada penderita alzheimer, komunikasi antarsel saraf ini terganggu sehingga otak tidak dapat berfungsi dengan baik.

Awalnya, alzheimer hanya mempengaruhi otak yang memproses ingatan. Lalu, secara bertahap, fungsi otak lainnya akan terganggu, semisal kemampuan berbahasa, berargumen, dan berperilaku.

Pada tahap yang sudah parah, alzheimer akan merenggut kemampuan penderitanya untuk hidup.

Dua hal yang menjadi patokan dalam diagnosis alzheimer adalah menurunnya memori dengan waktu mulainya gejala yang tidak jelas dan berjalan perogresif. 

Selain itu,  orang dengan alzheimer juga akan mengalami gangguan atau kemunduran pada satu atau lebih domain kognitif.

Maka dari itu, ketika gejala alzheimer muncul, penderitanya dapat mangalami beberapa gangguan berikut:

  • Afasia
  • Apraksia
  • Gangguan berbahasa
  • Menurunnya kekuatan motorik
  • Agnosia atau ketidakmampuan untuk mengenali objek di sekitarnya
  • Fungsi eksekutif atau cara berpikir
  • Kemampuan memecahkan masalah
  • Menurunnya kemampuan mengambil keputusan. 

Penyebab alzheimer ini masih belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi faktor risikonya bisa meliputi:

  • Genetika. Saat gen yang teridentifikasi adalah tiga gen autosomal dominan (PSEN 1,2, APP), dapat menyebabkan kemunculan gejala alzheimer lebih dini (sebelum usia 60 tahun). Sementara, satu gen apolipoprotein E e4 (APOE e4) yang menyebabkan kemunculan gejala alzheimer lambat.
  • Menderita stroke, darah tinggi, kencing manis, dan penyakit metabolik lainnya
  • Kebiasaan merokok 
  • Gangguan kesehatan lainnya

3. Epilepsi

Epilepsi memiliki implikasi yang beragam, semisal nerobiologis, kognitif, psikologi, dan sosial. 

Umumnya, penyakit ini dikenal dengan gejala kejang-kejang disertai mulut berbusa. Hal ini diakibatkan adanya aktivitas yang tidak normal di otak.

Secara umum, kejang-kejang terjadi karena sejumlah sel saraf bekerja secara bersamaan dan lebih cepat daripada biasanya.

Lonjakan aktivitas kelistrikan di dalam otak ini dipicu oleh gerakan, sensasi, emosi, perilaku yang tidak disengaja, dan gangguan aktivitas saraf.

Dalam beberapa kasus, penderita epilepsi menyebabkan kehilangan kesadaran, tetapi dalam beberapa kasus lainnya, penderita epilepsi tetap sadar saat gejalanya muncul. 

Epilepsi atau kejang dapat dikendalikan, sehingga sekitar 70% pasien dengan epilepsi (ODE) dapat bebas kejang dengan menggunakan obat antiepilepsi (OAE). 

Selain itu, faktor risiko penyakit epilepsi ini di antaranya adalah:

  • faktor genetik,
  • perkembangan otak yang tidak normal,
  • Infeksi,
  • cedera otak yang traumatik,
  • stroke,
  • tumor otak, dan lain-lain,
  • gangguan metabolik,
  • gangguan imun, dan lain-lain

Untuk penanganan awal pada kejang epilepsi yang dapat Anda lakukan di antaranya:

  • Jaga pasien agar tetap aman
  • Pastikan kondisi sekeliling aman
  • Jauhkan pasien dari benda tajam dan keras
  • Pasien tidak perlu dipegang atau ditahan karena berisiko mencederainya

4. Meningitis

Meningitis adalah reaksi peradangan (infeksi) yang mengenai salah satu atau semua selaput meningen di sekeliling otak dan medulla spinalis.

Biasanya, penderita meningitis akan mengalami nyeri kepala, kaku kuduk, temperatur tubuh panas, terkadang sampai menggigil, fotofobia, mual, muntah, kejang, dan muncul tanda defisit neurologis fokal atau penurunan kesadaran. Gejala timbul dalam 24 jam setelah penyakit mulai muncul (onset) atau pada pasien meningitis subakut, gejala timbul dalam waktu 1-7 hari setelah penyakit mulai muncul.

Penanganan meningitis bergantung dari usia, penyebab, dan faktor-faktor yang memperparah kondisi. Setelah itu, dokter akan melihat apakah ada peningkatan tekanan intrakranial dalam otak.

Lalu, jika Anda mengalami meningitis yang disebabkan infeksi bakteri, dokter akan memberikan antibiotik. Jadi, pada intinya, tidak ada pengobatan yang spesifik khusus menangani meningitis.

5. Parkinson

Parkinson adalah gangguan otak yang dapat membuat kita sulit mengendalikan tubuh, seperti jadi sering gemetar, kaku, kesulitan menyeimbangkan tubuh, dan mengoordinasikan gerakan anggota tubuh.

juga merupakan salah satu penyakit neurodegeneratif. Artinya, fungsi sel saraf akan berkurang secara cepat hingga akhirnya tidak bisa berfungsi sama sekali. Perjalanan penyakitnya bersifat progresif, hingga akhirnya dapat menyebabkan disabilitas total dan kematian. 

Hal yang sering terjadi pada penderita Parkinson adalah otaknya tidak mampu memproduksi dopamin yang cukup. Salah satu fungsi hormon ini adalah mengirim sinyal rangsangan ke tubuh.

Makanya, salah satu cara merawat orang dengan parkinson adalah dengan melakukan terapi dopamin. Biasanya, dokter akan meresepkan obat levodopa untuk meningkatkan kadar dopamin dalam otak.

Selain itu, pasien juga biasanya diberi agonis dopaminergik, semisal pramipexole, ropinirole, dan rotigotine.

Dalam berbagai kasus, dokter juga akan memberikan inhibitor enzim monoamine oxidase B (MAO-B), antikolinergik, amantadine, dan lain-lain. 

Kemudian, pasien dengan parkinson juga bisa menjalani fisioterapi untuk fokus terhadap pemulihan dan perawatan sesuai dengan gejala yang dikeluhkan. Seiring perkembangan jaman, saat ini juga sudah ada terapi non medikamentosa, semisal operasi Deep Brain Stimulation (DBS).

6. Bell's Palsy

Bell's palsy adalah penyakit yang ditandai dengan kelumpuhan di salah satu sisi wajah. Hal ini terjadi akibat kerusakan pada saraf wajah yang mengendalikan otot-otot wajah.

Sampai sekarang, penyebab pasti penyakit ini belum dapat diketahui. Namun, beberapa pakar meyakini bahwa penyakit ini disebabkan oleh virus.

Ada beberapa metode penanganan yang biasa diterapkan pada penderita Bell's Palsy. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan penutup mata untuk melindungi kornea dari kekeringan
  • Konsumsi kortikosteroid untuk meredakan peradangan di fase awal atau akut
  • Konsumsi aciclovir atau valaciclovir (obat antivirus) di fase awal atau akut

Bila memiliki keluhan gejala seperti bell’s palsy, Anda harus segera ke dokter.

Pasalnya, gejala tersebut harus dipastikan kembali, apakah disebabkan kerusakan saraf wajah atau adanya gangguan di dalam otak, sehingga dokter dapat memastikan lagi dengan pemeriksaan fisik. 

7. Stroke

Stroke adalah salah satu penyakit saraf yang dialami oleh banyak orang. Akan tetapi, penyakit ini bukanlah penyakit yang menular

Sederhananya, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu. Biasanya gangguan ini diakibatkan pembuluh darah tersumbat atau pecah.

WHO mendefinisikan stroke sebagai suatu kondisi ditemukannya tanda-tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global yang dapat memberat aliran darah ke otak. Gejala awal berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain gangguan pada pembuluh darah.

Karena aliran darah ke otak terganggu, sel-sel otak yang mengendalikan berbagai organ tubuh pun jadi terganggu. Maka dari itu, penderita stroke jadi sulit bicara dan bergerak, kemampuan melihat menurut, serta pernapasan pun terganggu.

Sahabat MIKA perlu mengenali gejala stroke sedini dengan metode FAST (Face, Arm, Speech and Timing). FAST merupakan metode yang memudahkan mengenali gejala awal stroke sehingga dapat ditangani dengan cepat. Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai FAST: 

  • Face (Wajah): Salah satu sisi wajah umpuh dan terlihat saat tersenyum. Sudut bibir terangkat hanya ke satu sisi atau mata tampak terkulai. Bedakan ini dengan kelumpuhan wajah kontralateral
  • Arms (lengan): Tidak mampu mengangkat salah satu atau kedua lengannya karena lemas, selain lengannya juga bisa kehilangan sensasi, juga bisa merasakan kesemutan
  • Speech (Berbicara): Bicara terganggu atau kacau, bahkan tidak dapat berbicara sama sekali meskipun Anda tetap sadar.
  • Time (Waktu): Jika Anda melihat gejala ini terjadi pada kerabat atau teman, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan secepatnya. 

Secara umum, terdapat dua jenis stroke yaitu iskemik dan hemoragik.

Berikut adalah metode penanganan stroke iskemik:

  • Pemberian suntikan tissue plasminogen activator (TPA) untuk memecah gumpalan darah yang menghalangi aliran darah ke otak. Pemberian obat tersebut diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam setelah penyakit mulai muncul (onset)  atau golden periode stroke. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kerusakan permanen pada jaringan otak. 
  • Prosedur trombektomi, yaitu prosedur memasukkan selang ke pembuluh darah dan mengarahkannya ke area terjadinya pembekuan darah. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan gumpalan di pembuluh darah.

Sementara, penderita stroke hemoragik akan mendapat penanganan seperti berikut ini:

  • Obat darah tinggi dan vitamin K untuk penderita stroke hemoragik
  • Prosedur penghalangan aneurisma dari pembuluh darah di otak
  • Embolisasi koil untuk menutup aneurisma
  • Tranfusi darah
  • Menguras kelebihan cairan di otak
  • Operasi untuk menghilangkan beberapa bagian di tengkorak yang bengkak

8. Cedera Sumsum Tulang Belakang Akut

Sumsum tulang belakang merupakan bagian tubuh yang terdiri atas banyak saraf penghubung antara otak dengan seluruh tubuh. Ketika cedera, sumsum tulang belakang bisa robek sebagian atau seluruhnya.

Cedera ini dapat disebabkan benturan traumatis, semisal jatuh dengan keras, cedera olahraga, kecelakaan lalu lintas, menjadi korban kekerasan, dan kecelakaan lainnya. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh hal-hal nontraumatis, semisal kanker, radang sendi, osteoprposis, polio, infeksi, dan lain-lain.

Orang yang mengalami cedera sumsum tulang belakang harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan terapi yang tepat. Apabila penanganan ditunda, akan mengakibatkan kerusakan parah pada sumsum tulang belakang khususnya jika disebabkan oleh benturan traumatis.

Sebagai catatan, cedera pada area sumsum tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan atau kecatatan. Dalam kondisi yang lebih parah, bahkan cedera ini dapat menyebabkan kematian.

9. Ataksia

Ataksia adalah penyakit saraf akibat penurunan fungsi saraf secara perlahan. Orang dengan ataksia akan mengalami kesulitan dalam menggerakkan lengan dan kaki, berjalan, berbicara, serta menggerakkan matanya.

Penyakit ini biasanya ditandai dengan gerak-gerik yang seperti orang mabuk, misalnya, berbicara tidak jelas, saat berjalan kerap tersandung, dan sulit mengoordinasikan gerakan. Tidak hanya itu, ataksia dapat menyebabkan penderita mengalami kekakuan yang tidak dapat diobati, gangguan pernapasan, atau tersedak yang dapat menyebabkan kematian.

Sampai sekarang, tidak ada pengobatan yang benar-benar menyembuhkan penyakit ini. Perawatan yang dijalani ditujukan mencegah gejala semakin parah dan meningkatkan kualitas hidup.

Pengobatan yang biasa dilakukan adalah konsumsi obat sesuai resep dokter, terapi wicara dan bahasa serta terapi fisik. Selain itu, pendampingan dan perawatan dari keluarga, sangat membantu orang dengan ataksia lebih termotivasi mempertahankan kualitas hidup pasien sendiri.

10. Neuropati Diabetes

Neuropati diabetes adalah gangguan pada saraf tepi yang merupakan bentuk komplikasi dari penyakit diabetes. Hal ini disebabkan kadar gula yang terlalu banyak di dalam tubuh dapat merusak saraf tubuh.

Umumnya, neuropati diabetes terjadi pada area kaki dan sekitarnya. Penderitanya, akan merasakan kesemutan dan tebal pada area kedua tungkai serta lengan. Kondisi ini membuat neuropati diabetes disebut gloves and stocking hipesthesi

Apabila penyakit sudah menimbulkan komplikasi, semisal penyebaran infeksi ketika kaki terluka, pasien harus menjalani prosedur amputasi.

Maka dari itu, penderita neuropati diabetes harus selalu menggunakan alas kaki untuk menghindari tertusuknya benda tajam seperti paku.

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan terapi obat dan mengubah gaya hidup untuk mengendalikan kadar gula darah. Perbaikan kualitas hidup dapat menghindarkan Anda dari berbagai komplikasi yang membahayakan kesehatan.

Selain pengobatan, orang dengan neuropati diabetes juga harus menjalani fisioterapi, sehingga bisa mencegah kerusakan permanen.

11. Neuritis

Neuritis adalah peradangan yang mengenai mata. Penyebabnya bisa beragam, yaitu autoimun infeksi, dan cedera.

Penyakit ini ditandai dengan munculnya rasa sakit pada mata, fungsi penglihatan berkurang untuk sementara, kehilangan kemampuan membedakan warna, dan kerap melihat kilatan cahaya.

Umumnya, penyakit ini akan mereda dengan sendirinya seiring waktu. Dalam beberapa kasus, dokter akan memberikan obat steroid untuk meredakan peradangannya.

Kapan Harus ke Dokter?

Anda harus pergi ke dokter ketika rasa sakit mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika rasa sakit disertai gejala berikut:

  • Nyeri pada punggung dan kepala
  • Tremor
  • Otot kaku
  • Mengalami masalah keseimbangan
  • Berbicara tidak jelas
  • Kejang